Selasa, 12 November 2013

Forum Kreatif From Youth to Creative Solution




Syariah Academic Training SCIEmics UPI 2012


Subhanallah luar biasa dapat Berbagi Inspirasi dalam acara SAT SCIEmics UPI dengan memberikan Materi "Ayoo Menulis dan Berpretasilah" dan Mengisi Talk Show Bersama Amilia Agustin yang biasa disebut “Ratu Sampah”, kang Haris Rachman “Pengusaha Bisnis Syariah”, kang Ali Mahfud “Presiden BEM REMA UPI 2011”, teh Sri Wahyuni “Mapres UPI 2012”, Ade Suyitno “DEPNAS Riset FoSSEI 2012 dan Penerima 15 Penghargaan Karya Ilmiah”. Dengan dimoderatori oleh kang Aris Rizal Gozali, mantan Chairman SCIEmics dan sebagai Dewan Syariah SCIEmics periode 2012, suasana pun semakin seru dan menegangkan terutama ketika para pemateri berbicara kepada para peserta tentang pengalaman dan prestasi-prestasi yang telah mereka raih.




“Acara SAT 2012 kemarin alhamdulillah sukses walaupun banyak kendala tapi dalam acaranya kita sukses memperkenalkan perbankan syariah dan motivasi dari para pemateri talk show yang benar-benar luar biasa. Harapan adanya SAT kemarin yaitu SCIEmics bisa eksis di mata UPI sendiri dan umum dalam mensyiarkan ekonomi islam dan bisa terus membuat acara-acara seminar yang berkonsep anak muda selamanya dengan pemateri yang gak ngebosenin.”
(Hendra Setia Putra, Ketua Pelaksana SAT 2012, dept. HRD SCIEmics, Manajemen UPI 2011)

“Assalammualaikum wr.wb. SAT tahun ini banyak sekali keajaiban-keajaiban yang terjadi. kekhawatiran saya terhadap panitia akan acara ini ternyata terbayar habis dengan suksesnya acara SAT 2012 ini. Subhanallah luar biasa.. Peserta banyak sekali yang datang on the spot, hal ini membuat keuangan surplus, pengisi acara yang luar biasa menariknya hingga tak terhitung berapakali peserta memberikan tepuk tangan untuk acara ini. dengan suksesnya acara ini semakin yakin bahwa semua rencana Allah itu jauh lebih indah jika dibandingkan dengan rencana kita dan semoga suksesnya acara SAT kali ini dapat menambah semangat kepada temen-temen SCIEmics dan civitas akademika UPI untuk terus memperjuangkan ekonomi islam. juga buat temen-temen mahasiswa baru dapat mengetahui keberadaan SCIEmics, dan apa itu ekonomi islam. Bisa Bisa Harus Bisa InsyaAllah Allahuakbar!!!”
(Helmy Cahya Muhammad, Chairman of SCIEmics, Manajemen UPI 2010)




“Pengalaman yang mengesankan telah mengikuti SAT,  menurut saya, acara SAT yang diadakan oleh sciemecs merupakan acara yang sangat berkesan dan luar biasa.
Selain menambah pengetahuan mengenai Ekonomi Syariah, dalam acara SAT juga dihadirkan orang-orang yang berprestasi dalam berbagai bidang. SAT juga sebagai wadah untuk mempererat tali silahturahmi. Harapan saya terhadap SAT yaitu dapat menjadi titik tolak saya untuk mengenali seperti apa ekonomi dalam islam itu.Dan untuk masyarakat luas, agar dapat menerapkan Ekonomi Syariah dalam kehidupan sehari-hari.Semoga Sciemics tetap menjadi yang terdepan dalam berdakwah dan memberi pengetahuan tentang Ekonomi Syariah kepada masyarakat luas”
(Abdul Holid, Pendidikan Manajemen Perkantoran UPI 2012)

“Tanggapan setelah saya mengikuti SAT yaitu menurut saya Syariah Academic Training Subhannallah sekali. Jujur saya overwhelmed dengan ilmu yang diberikan. Apalagi seminar mapres, membuat saya semakin ingin menjadi mahasiswa berprestasi. Pokoknya saya ga nyesel datang ke SAT. Manfaatnya, saya jadi tahu ilmu ekonomi syariah yang menjadi pedoman berniaga ekonomi islam. Saya menjadi bersemangat lagi untuk menjadi mahasiswa yang mempunyai segudang perstasi seperti pembicara mapres di acara SAT kemari.  Harapan dari acara SAT : Lagi !!! untuk SCIEMICS sering – sering ya acara SAT nya. Untuk umum : yang kemarin datang ke acara SAT , ayo kita amalkan ilmunya dan berbagi dengan sesama. Yang belum datang ayo datang ke acara Syariah Academic Training. ^_^ “
(Mutia Nabillah, Pendidikan Bahasa Prancis UPI 2012)

“Acara Syariah Akademik Training kemarin itu menarik, saking menariknya sampai-sampai saya yang awalnya dari UNPAS (bukan mahasiswa UPI) ikut-ikutan menghadiri SAT kemarin. Segmen yang paling asyik tuh waktu senam otak karen akita bisa nari-nari jarinya.hehe.. Tapi ada segmen yang lebih mantap lagi yaitu segmen diskusi dengan Mapres. Kita jadi termotivasi dan ingin bangkit. Semangat!!!Merdeka!!! Manfaat yang saya rasakan setelah mengikuti acara ini jadi termotivasi, jadi ingin semangat lagi untuk mencapai cita-cita, dan jadi ingin berlomba-lomba menjadi Mapres di kampusku. Harapan untuk SCIEmics lebih sering lagi ya mengadakan acara seminar untuk umum terutama yang menyangkut ekonomi islam, dan harapan untuk umum yaitu bisa mengetahui apa itu SCIEmics”
(Hanna Pracaswari, Teknologi Pangan UNPAS 2011)

“Assalamualaikum. Wr.Wb. Terimakasih sebelumnya kepada semua pihak yang menyelenggarakan kegiatan SAT dengan baik. Kegiatan SAT kemarin berlangsung seru, terutama dilihat dari antusiasme peserta, tidak kalah juga MC dan Pemandu senam otaknya (Trainernya itu siapa ya, lupa lagi namanya) hehehe.. Tentunya kegiatan SAT ini sangatlah bermanfaat khususnya buat saya pribadi, karena wawasan mengenai ekonomi Islam diperoleh melalui interaksi langsung dengan praktisi sekaligus ahli di bidangnya, sangatlah jarang dijumpai.. Pastinya semakin banyak kegiatan semacam ini diikuti, Insya Allah dapat menambah ilmu, khususnya mengenai Ekonomi Syariah. Selain itu dapat memperkuat tali silaturahmi sesama muslim diantara sesama peserta yang notabenenya adalah mahasiswa lintas jurusan dan lintas daerah. Secara umum kegiatan SAT kemarin sudah terlaksana dengan baik. Apalagi ditambah melihat dari persiapan panitia yang dengan penuh semangat sudah merancang dengan baik demi terselenggaranya kegiatan ini. Panitianya juga pada baik, sopan, cantik2 dan ganteng2, sehingga dapat menghipnotis peserta untuk mengikuti acaranya dengan antusias.. hehehe.. (Pokoknya terimakasih untuk semuanya ya). Oia, Untuk SCIEMICS sendiri... Sosialisasi dan publikasi SCIEMICS yang dilakukan sebelumnya udh bagus tuh.. Kayak kemarin publikasi SAT ga hanya di pajang di spanduk yang ada di UPI, tapi juga melalui virtual seperti internet dengan memanfaatkan group-group yang ada di facebook (Group Gerakan 1000 PKM UPI) dan banyak yang lainnya. (makanya saya datang ke acara ini, karena saya taunya melalui info di group Gerakan 1000 PKM UPI ini)..... Untuk itu perlu diperluas lagi ya, ga hanya ruang lingkup mahasiswa FPEB khususnya & mahasiswa S1 umumnya, Coba merambah lagi ke SPs UPI. Siapa tau ada mahasiswa pasca yang tertarik untuk bergabung dengan SCIEMICS, karena UPI kan ga hanya mahasiswa S1 saja kan toh ada mahasiswa pasca juga”
(Dedi Supriyadi, Pendidikan Ekonomi UPI 2010)



“Acara SAT pada hari sabtu tanggal 20 oktober 2012 menurut saya pribadi sangat seru sekali, selain karena banyaknya peserta yang hadir, konsep acaranya pun lumayan baik. Apalagi dengan adanya “talk show” bersama 5 inspirator yang selalu membakar semangat saya untuk lebih baik. Harapan saya atas acara SAT kemarin, mudah-mudahan bisa menjadikan atau menghadirkan generasi-generasi muda yang cerdas, jujur, dan peduli terhadap ekonomi syariah yang merupakan solusi bagi Negara Indonesia dan Global”
(Muhlis Ismail, STIE Muhammadiyah Bandung)

“Menurut saya, acara SAT kemarin lumayan seru, pematerinya juga hebaat, ditambah ada acara talkshow dengan orang-orang hebat pula seperti siswa + mapres yang membuat saya menjadi termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi. acara SAT ini tentunya bermanfaat untuk saya karena saya bisa mendapat ilmu tentang ekonomi islam yang nantinya akan saya pelajari dalam perkuliahan. tapi, saya rasa acaranya terlalu lama, sehingga terkadang membuat jenuh, mungkin bila diselingi sedikit hiburan yang menarik seperti adanya doorprize atau hadiah yang menarik, bintang tamu yang menghibur, dll tidak akan membuat jenuh para peserta SAT. mudah-mudahan SAT akan selalu memberikan yang terbaik bagi para mahasiswa dan mudah-mudahan sciemics menjadi UKM favorit di UPI ..
maju terus SCIEMICS!!
(Windiara Hanum, Pendidikan Ekonomi UPI 2012)

“Acaranya seru, manfaatnya banyak memberikan motivasi dan pengetahuan dan ilmu baru serta pengalaman yang dapat diambil hikmahnya. Semoga SCIEMICS bisalebih baik lagi untuk acaranya selanjutnya”
(Siti Rismaya, STIE EKUITAS)

“Tanggapan saya tentang SAT kemarin secara keseluruhan amat bagus. Acara ini bisa menjadi rujukan untuk ksei-ksei lain karena sangat inspiratif dengan mengundang siswa + mahasiswa yang berprestasi adalah sesuatu yang sangat bagus dan kreatif apalagi brand syariahnya SCIEMICS. Adalah hal yang membuat saya termotivasi untuk bisa seperti itu . Sukses untuk SCIEMICS.”
(Arif Resmana, UIN Bandung)

“Acara SAT kemarin meningkatkan gairah saya untuk terus berprestasi, se
makin termotivasi oleh para orang-orang SUPER MAPRES kemarin di depan panggung dan saya jadi tahu, bahwa ternyata orang Indonesia itu Sangat Mampu untuk tampil di mata Dunia. Harapan saya dengan adanya Acara SAT  kemarin, bisa mencetak generasi-generasi penerus untuk berprestasi di bidangnya masing-masing, Mahasiswa / i semakin yakin bahwa Ekonomi Islam itu merupakan sebuah solusi di tengah maraknya perekonomian global yang semakin hari malah menciptakan kesenjangan sosial, kemiskinan, ketidak adilan, pendistribusian yg tidak merata, dll, Untuk Para Panitia (Sciemics ) lebih ditingkatkan lagi acara acara yang bertema kan Ekonomi Islam, karena itu merupakan awal kita untuk melangkah menyebarkan virus ekonomi Islam. Untuk Sciemics,  dengan adanya acara tsb kita semakin solid dalam Mendakwahkan Ekonomi Islam.”
(Ayi Koswara, UIN Bandung)

By: Dina R.

Capaciyty Building : Creative Thingking Training

By Ade Suyitno
14/09/2013
Pada Mabim Pendidikan Ekonomi UPI




Selasa, 06 Agustus 2013

Membuat Kerangka Pemikiran Penelitian (Creative Writing 2nd Meeting)

Creative Writing 2nd Meeting
Further Discussion : Twittr :  @CreativeLead_id  &  Like FanPage FB : CLI - Indonesia 


Kerangka pemikiran adalah narasi (uraian) atau pernyataan (proposisi) tentang kerangka konsep pemecahan masalah yang telah diidentifikasi atau dirumuskan. Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran dalam sebuah penelitian kuantitatif, sangat menentukan kejelasan dan validitas proses penelitian secara keseluruhan. Melalui uraian dalam kerangka berpikir, peneliti dapat menjelaskan secara komprehensif variabel-variabel apa saja yang diteliti dan dari teori apa variabel-variabel itu diturunkan, serta mengapa variabel-variabel itu saja yang diteliti. Uraian dalam kerangka berpikir harus mampu menjelaskan dan menegaskan secara komprehensif asal-usul variabel yang diteliti, sehingga variabel-variabel yang tercatum di dalam rumusan masalah dan identifikasi masalah semakin jelas asal-usulnya.


Pada dasarnya esensi kerangka pemikiran berisi: (1) Alur jalan pikiran secara logis dalam menjawab masalah yang didasarkan pada landasan teoretik dan atau hasil penelitian yang relevan. (2) Kerangka logika (logical construct) yang mampu menunjukan dan menjelaskan masalah yang telah dirumuskan dalam kerangka teori. (3) Model penelitian yang dapat disajikan secara skematis dalam bentuk gambar atau model matematis yang menyatakan hubungan-hubungan variabel penelitian atau merupakan rangkuman dari kerangka pemikiran yang digambarkan dalam suatu model. Sehingga pada akhir kerangka pemikiran ini terbentuklah hipotesis.


Dengan demikian, uraian atau paparan yang harus dilakukan dalam kerangka berpikir adalah perpaduan antara asumsi-asumsi teoretis dan asumsi-asumsi logika dalam menjelaskan atau memunculkan variabel-variabel yang diteliti serta bagaimana kaitan di antara variabel-variabel tersebut, ketika dihadapkan pada kepentingan untuk mengungkapkan fenomena atau masalah yang diteliti.


Di dalam menulis kerangka berpikir, ada tiga kerangka yang perlu dijelaskan, yakni: kerangka teoritis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional. Kerangka teoritis atau paradigma adalah uraian yang menegaskan tentang teori apa yang dijadikan landasan (grand theory) yang akan digunakan untuk menjelaskan fenomena yang diteliti. Kerangka konseptual merupakan uraian yang menjelaskan konsep-konsep apa saja yang terkandung di dalam asumsi teoretis yang akan digunakan untuk mengabstraksikan (mengistilahkan) unsur-unsur yang terkandung di dalam fenomena yang akan diteliti dan bagaimana hubungan di antara konsep-konsep tersebut. Kerangka operasional adalah penjelasan tentang variabel-variabel apa saja yang diturunkan dari konsep-konsep terpilih tadi dan bagaimana hubungan di antara variabel-variabel tersebut, serta hal-hal apa saja yang dijadikan indikator untuk mengukur variabel-variabel yang bersangkutan.


Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka dalam menyusun kerangka berpikir kita harus memulainya dengan menegaskan teori apa yang dijadikan landasan dan akan diuji atau digambarkan dalam penelitian kita. Lalu dilanjutkan dengan penegasan tentang asumsi teoretis apa yang akan diambil dari teori tersebut sehingga konsep-konsep dan variabel-variabel yang diteliti menjadi jelas. Selanjutnya, kita menjelaskan bagaimana cara mengoperasionalisasikan konsep atau variabel-variabel tersebut sehingga siap untuk diukur.


Walaupun dalam kerangka berpikir itu harus terkandung kerangka teoretis, kerangka konseptual, dan kerangka operasional, tetapi cara penguraian atau cara pemaparannya tidak perlu kaku dibuat per sub bab masing-masing. Hal yang penting adalah bahwa isi pemaparan kerangka berpikir merupakan alur logika berpikir kita mulai dari penegasan teori serta asumsinya hingga munculnya konsep dan variabel-variabel yang diteliti.


Agar peneliti benar-benar dapat menyusun kerangka berpikir secara  ilmiah (memadukan antara asumsi teoretis dan asumsi logika dalam memunculkan variabel) dengan benar, maka peneliti harus intens dan eksten menelurusi literatur-literarur yang relevan serta melakukan kajian terhadap hasil penelitian-penelitian terdahulu yang relevan, sehingga uraian yang dibuatnya tidak semata-mata berdasarkan pada pertimbangan logika. Untuk itu, dalam menjelaskan kerangka teoretisnya, peneliti mesti merujuk pada literatur atau referensi serta laporan-laporan penelitian terdahulu.


Selanjutnya secara sederhana penyusunan kerangka berpikir dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut:

  1. Menentukan  paradigma atau kerangka teoretis yang akan digunakan, kerangka konseptual dan kerangka operasional variabel yang akan diteliti.
  2. Memberikan penjelasan secara deduktif mengenai hubungan antarvariabel penelitian. Tahapan berpikir deduktif meliputi tiga hal yaitu: (a) Tahap penelaahan konsep (conceptioning), yaitu tahapan menyusun konsepsi-konsepsi (mencari konsep-konsep atau variabel dari proposisi yang telah ada, yang telah dinyatakan benar). (b) Tahap pertimbangan atau putusan (judgement), yaitu tahapan penyusunan ketentuan-ketentuan (mendukung atau menentukan masalah akibat pada konsep atau variabel dependen). (c) Tahapan penyimpulan (reasoning), yaitu pemikiran yang menyatakan hal-hal yang berlaku pada teori, berlaku pula bagi hal-hal yang khusus.
  3. Memberikan argumen teoritis mengenai hubungan antar variabel yang diteliti. Argumen teoritis dalam kerangka pemikiran merupakan sebuah upaya untuk memperoleh jawaban atas rumusan masalah. Dalam prakteknya, membuat argumen teoritis memerlukan kajian teoretis atau hasil-hasil penelitian yang relavan. Hal ini dilakukan sebagai petunjuk atau arah bagi pelaksanaan penelitian. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, oleh karena argumen teoritis sebagai upaya untuk memperoleh jawaban atas rumusan masalah, maka hasil dari argumen teoritis ini adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah penelitian. Sehingga pada akhirnya produk dari kerangka pemikiran adalah sebuah jawaban sementara atas rumusan masalah (hipotesis).
  4. Merumuskan model penelitian. Model adalah konstruksi kerangka pemikiran atau konstruksi kerangka teoretis yang diragakan dalam bentuk diagram dan atau persamaan-persamaan matematik tertentu. Esensinya menyatakan hipotesis penelitian. Sebagai suatu kontruksi kerangka pemikiran, suatu model akan menampilkan: (a) jumlah variabel yang diteliti, (b) prediksi tentang pola hubungan antar variabel, (c) dekomposisi hubungan antar variabel, dan (d) jumlah parameter yang diestimasi.

Sumber: Sambas Ali Muhidin, 2011, Panduan Praktis Memahami Penelitian, Bandung: Pustaka Setia.

Buku2

Selasa, 16 Juli 2013

Cara Membuat Latar Belakang Masalah Penelitian (Creative Writing 1st Meeting)

Creative Writing 1st Meeting
Further Discussion : Twittr :  @CreativeLead_id  &  Like FanPage FB : CLI - Indonesia 

Latar Belakang masalah adalah informasi yang tersusun sistematis berkenaan dengan fenomena dan masalah problematik yang menarik untuk di teliti. Masalah terjadi saat harapan idela akan sesuatu hal tidak sama dengan realita yang terjadi. Tidak semua masalah adalah fenomena dan menarik. Masalah yang fenomenal adalah saat menajdi perhatian banyak orang dan di bicirakan di berbagai kalangan di masyarakat.

Latar belakang dimaksudkan untuk menjelaskan alasan mengapa masalah dalam penelitian ingin diteliti, pentingnya permasalahan dan pendekatan yang digunakan untukan untuk menyelesaikan masalah tersebut baik dari sisi teoritis dan praktis.

Latar belakang penelitian berisi :
  1. Alasana rasional dan esensial yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian berdasarkan fakta-fakta, data, referensi dan temuan penelitian sebelumnya.
  2. Gejala-gejala kesenjangan yang terdapat dilapangan sebagai dasar pemikiran untuk memunculkan permasalahan dan bagaimana penelitian mengisi ketimpangan yang ada berkaitan dengan topik yang diteliti.
  3. Kompleksitas masalah jika masalah itu dibiarkan dan akan menimbulkan dampak yang menyulitkan, menghambat, mengganggu bahkan mengancam.
  4. Pendekatan untuk mengatasi masalah dari sisi kebijakan dan teoritis
  5. Penjelasan singkat tentang kedudukan atau posisi masalah yang diteliti dalam ruang lingkup bidang studi yang ditekuni peneliti.

Cara membuat latar belakang masalah dengan langkah sebagai beikut :
  1. Pada bagian awal latar belakang adalah gambaran umum tentang masalah yang akan di angkat. Dengan model piramid terbalik buat gambaran umum tentang masalah mulai dari hal global sampai mengerucut fokus pada masalah inti, objek serta ruang lingkup yang akan di teliti.
  2. Pada bagian tengah unkapkan fakta, fenomena, data-data dan pendapat ahli berkenaan dengan pentingnya masalah dan efek negatifnya jika tidak segera di atasi dengan di dukung juga teori dan penelitian terdahulu.
  3. Bagian akhir di isi dengan alternatif solusi yang bisa di tawarkan (teoritis dan praktis) dan akhirnya munculah judul.


Contoh Latar Belakangnya sebagai Berikut :
INTEGRATED SYSTEM OF CULTURAL EDUCATION (ISCED) INDONESIA :MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PELAJAR BERBASIS LOCAL WISDOM
DI ERA GLOBAL
Naskah Karya Tulis Ini Disusun
dalam Rrangka Mengikuti Lomba Karya Tulis Nasional di
Universitas Muhammadiyah Makasar
ADE SUYITNO, MALIATUL & ERNA Y

Indonesia merupakan  negara majemuk yang memiliki suku bangsa, bahasa serta agama yang bervariasi. Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara yang terdiri dari beberapa pulau besar dan ribuan pulau kecil serta didukung oleh faktor ragam suku, ras, agama dan budaya.Kebudayaan lokal Indonesia yang sangat beranekaragam menjadi suatu kebanggaan sekaligus tantangan untuk mempertahankan serta mewariskan kepada generasi selanjutnya. Lebih dari 20 suku terdapat di Indonesia dan lebih dari 100 kebudayaan ada di Indonesia.

Perubahan kebudayaan yang mulai terjadi di Indonesia saat ini nampak jelas dengan adanya pergeseran budaya dari kebudayaan lokal menjadi kebudayaan luar yang lebih diminati oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu dampak adanya globalisasi. Ilmu pengetahuan, teknologi, komunikasi dan sarana transportasi internasional telah menghilangkan batas-batas budaya setiap bangsa. Hal ini dibuktikan dengan berkembangnya budaya pop Korea (Hallyu) dan budaya barat (westwernisasi) di negara-negara Asia Timur dan beberapa negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. Semakin gencarnya ekspos dunia luar melalui media elektronik seperti televisi maupun internet menjadikan masyarakat seakan tidak peduli dengan budayanya sendiri. Pola pikir masyarakat khususnya generasi muda dapat dengan mudah dirusak, masyarakat lebih cenderung melupakan kebudayaan sendiri dan beralih ke budaya luar.

Bangsa Indonesia dewasa ini di dalam memasuki era globalisasi menghadapi suatu masa yang kritis karena masyarakat mengalami krisis kebudayaan. Krisis kebudayaan bisa menyebabkan krisis sosial, krisis ekonomi, krisis psikologi dan berbagai jenis krisis lainnya. Fenomena globalisasi mempengaruhi dinamika masyarakat, dinamika tersebut mengubah tingkahlaku manusia dan juga berakibat pada kaburnya nilai-nilai kemanusiaan, agama dan budaya. Globalisasi membawa 4 ciri utama, yakni Dunia-Tanpa-Batas (Borderless World), Kemajuan Ilmu dan Teknologi, Kesadaran terhadap HAM serta Kewajiban Asasi Manusia dan Masyarakat Mega Kompetisi. Adanya kekhawatiran dari dampak globalisasi adalah pada generasi muda Indonesia karena generasi muda yang mash mencari jati diri dengan filter diri yang seadanya sangat rentan untuk terpengaruh dari budaya luar.

Data Badan Pusat Statistik (BPS), kependudukan hasil sesnsus 2010 menyatakan bahwa penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa. Jumlah penduduk yang termasuk kelompok generasi muda yaitu kelompok umur 14-20 tahun menempati jumlah yang banyak yaitu 64 juta jiwa. Kelompok generasi muda tersebut dinyatakan memiliki permasalahan. Berdasarkan outlook Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tahun 2010 dalam Kebijakan Nasional Pengembangan Karakter Bangsa, bahwa masalah bangsa ini adalah bergesernya nilai etika dalam berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa, melemahnya kemandirian bangsa.

Degradasi pada moral remaja diperlihatkan bukan hanya dalam cara berpakaian dan tawuran, namun masih banyak lagi. Contohnya: dunia narkoba dan seks bebas akhir-akhir ini memang sangat ngetren dikalangan remaja. Ini tandanya ada bukti lagi bahwa moral remaja masa kini memang sudah menurun. Akhir bulan september 2012 dunia pendidikan kita menoreh tinta hitam karena terjadi tawuran antar pelajar di berbagai daerah di Indonesia yang menjadi pusat perhatian adalah tawuran antara SMA 6 dan SMA 70 Jakarta yang berakhir meninggalnya satu orang siswa dan pencabulan siswa di gorontalo di awal tahun 2013. Degradasi moral ini akan membuat generasi muda tidak produktif dalam karya dan akan menurunkan tingkat kemandirian pelajar di masa depan, padahal ditangan pelajar bangsa ini kedepan akan dipimpin. 

Kemudian berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2012) memperlihatkan bahwa tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan di Indonesia mencapai 7,244,956 orang. Dengan didominasi jumlah dari lulusan universitas 438,210 orang, Diploma 196,780 orang, SMTA (Umum dan Kejuruan) 2.873.374 orang. Hal ini sangat ironi sekali mengingat generasi muda yang terdidik dan terpelajar malah menjadi beban dan berkontribusi tinggi terhadap angka pengangguran di Indonesia. Kurangnya softskill jadi salah satu penyebab utama.

Permasalahan yang terjadi pada generasi muda dan ditambah dampak negatif dari globalisasi ini menyebabkan persoalan budaya dan karakter bangsa. Krisis multidimensional, yang bermuara pada krisis moral, dan krisis kepercayaan diri telah membuat generasi bangsa enggan dan malu menunjukkan jatidiri sebagai bangsa Indonesia. Akibat krisis ini persoalan pun muncul di masyarakat seperti korupsi, gaya hidup instan, perkelahian massa, kehidupan ekonomi yang konsumtif, kehidupan politik yang tidak produktif dan lainnya dimana menjadi pembahasan hangat di media massa, seminar, serta ruang publik lainnya (Kementerian Pendidikan Nasional, 2010:1).

Jika masalah-masalah diatas terus dibiarkan maka lambat laun Indonesia akan mengalamimiss cultural atau kepunahan budaya. Masyarakat Indonesia akan kehilangan aset terbesar warisan alam dan nenek moyang yang dimilikinya. Indonesia juga akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa multikultural. Hal ini akan berimbas kepada generasi muda yang di mana sekarang mulai menyukali budaya yang sedang tren di dunia dan mulai melupakan kebudayaan serta nilai-nilai luhur kearifan budaya lokal.

Kehandalan potensi pendidikan sebagai agen konstruktif perbaikan masyarakat ini menjadi suatu kenyataan, suatu realita yang tidak hanya sekedar mengembangkan intelektualitas anak-siswa dan pemuda, namun juga masyarakat masa depan di mana mereka akan menjadi unsur utama dan bagian dari budaya. Pendidikan berperan menanamkan nilai-nilai budaya, kebijakan lokal, nilai-nilai kebangsaan dan mengembangkan potensi.

Pendidikan dan kebudayaan memiliki hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu pengembangan nilai. Dalam konteks kebudayaan pendidikan memainkan peranan dalam agen pengajaran nilai-nilai budaya. Pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki. Nilai-nilai kebudayaan bukanlah hanya sekedar dipindahkan dari satu bejana ke bejana yang lain yaitu kegenerasi mudanya,tetapi dalam proses interaksi antara pribadi dengan kebudayaan betapa pribadi merupakan individu yang kreatif bukan pasif. Globalisasi merupakan entitas, jika entitas tersebut dapat menjadi lifestyle dan symbol kemodernenan. Ia dapat mengubah kebiasaan hidup seseorang bahkan tak jarang menilai agama dan pendidikan sebagai suatu yang ketinggalan zaman.

Globalisasi seharusnya direspons dengan mengkaji ulang format pendidikan yang sesuai dengan konteks globalisasi itu sendiri. Salah satunya lewat pendidikan kewirausahaan dan kreativitas berbasis budaya yang di sekolah di Indonesia baik di kelas dan diekstrakulikuler. Kontinuitas budaya akan memungkinkan hanya jika pendidikan memelihara warisan akar-akar pembentukannya dengan meneruskan kebenaran-kebenaran yang telah dihasilkan pada masa lampau kepada generasi baru, mengembangkan suatu background dan loyatitas-loyalitas cultural.

Generasi muda memiliki kedudukan dan peranan penting dalam pelestarian seni dan budaya daerah. Hal ini didasari oleh asumsi bahwa generasi muda merupakan anak bangsa yang akan menjadi penerus kelangsungan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia. Sebagai generasi yang kelak menjadi pemimpin-pemimpin bangsa, pada diri generasi muda harus bersemayam suatu kesadaran kultural sehingga keberlanjutan bangsa Indonesia dapat dipertahankan. Pembentukan kesadaran kultural generasi muda antara lain dapat dilakukan dengan pengoptimalan peran dalam pelestarian seni dan budaya daerah.

Oleh karena itu, dari pemaparan diatas penulis akan mengangkat penelitian yang berkenaan dengan program  pengembangan  karakter pelajar melalui pendidikan kewirausahaan dan kreativitas berbasis Local Wisdom untuk memplajari, mengembangkan dan mempublikasikan produk kreatif pada pasar global. Dalam penelitian ini penulis mengangkat judul “Integrated System of Cultural Education (ISCED) Indonesia : “Mengembangkan Kreativitas Pelajar Berbasis Local Wisdom di Era Global”

  
Daftar Pustaka :
Badan Pusat Statistik RI. 2012. Data Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia berdasarkan Tingkat Pendidikan. Jakarta
Badan Pusat Statistik RI. 2010. Data Sensus Penduduk Nasional Indonesia 2010. Jakarta
Kemendiknas. 2003. Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta
Kemenko Kesra. 2010. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa. Jakarta

Senin, 16 Januari 2012

Indonesian Creative Institute (ICI)


ICI, Indonesian Creative Institute established to encourage Indonesian young generations for social economic movement. ICI focuses on a creative entrepreneurship and life skills education. Creative values are always found in every aspect of our programs and activities. ICI has already provided education not only available for young people at school and the university but also it is available for those who live under the bridge, rural areas, traditional markets, or even on the street. ICI have a vision is to develop their global competences and local understanding. 

Education in our programs are integrated, long-life learning with three pillars; developing character, creativity, and knowledge. It is in line with the UNESCO concept of learning to know, learning to do, and learning to live together. Nowadays ICI has 43 volunteers and 685 online supporters to achieve ICI’s vision and confer creative training for 3500 youth from 64 training in several provinces in Indonesia.


Visi CLI - Indonesia

Be a Leading Institution That Provide
Entrepreneurship & Life Skills Education in Indonesia

  

Program CLI - Indonesia

1. Education of Creative Leadership, Organization and Entrepreneurship
2. Education and Training for Creative Writing
3. Research Workshop and Consultation for Students
4.Social Cultural Project
5. Online Short Course

Saat 1 lilin bisa menyalakan 10 lilin
dan 10 lilin bisa menyalakan 1000 lilin lainya
dan seterusnya menjadikan indonesia lebih baik lagi



Latar Belakang

Menurut definisi World Health Organization (WHO), life skills atau ketrampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif.  

Masa depan Indonesia ada di tangan 'Generasi Mudanya' karena ditangan mereka estafet kepemimpinan dilanjutkan. Harapan besar perbaikan Indonesia melalui agen perubahan dari generasi muda menyisakan ironi tersendiri, hal ini didasari banyaknya fakta terjadinya beberapa kemunduran dan kenakalan di kalangan remaja. Berdasarkan outlook Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat tahun 2010 dalam Kebijakan Nasional Pengembangan Karakter Bangsa memperlihatkan bahwa masalah utama bangsa ini adalah bergesernya nilai etika dalam berbangsa dan bernegara, memudarnya kesadaran terhadap nilai-nilai budaya bangsa dan melemahnya kemandirian bangsa [1].

 Kemudian berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2012)  memperlihatkan bahwa tingkat pengangguran terbuka berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan di Indonesia mencapai 7,244,956 orang. Dengan didominasi jumlah dari lulusan universitas 438,210 orang, Diploma 196,780 orang, SMTA (Umum dan Kejuruan) 2.873.374 orang. Hal ini sangat ironi sekali mengingat generasi muda yang terdidik dan terpelajar malah menjadi beban dan berkontribusi tinggi terhadap angka pengangguran di Indonesia. Kurangnya softskill jadi salah satu penyebab utama [2].

Selanjutnya Indonesia mendapatkan 'Bonus Demografi' sampai 2050 mendatang dimana Usia Produktif sangat melimpah. Data Badan Pusat Statistik Indonesia tentang kependudukan hasil sesnsus 2010 saja memperlihatkan bahwa penduduk Indonesia berjumlah 237,6 juta jiwa. Jumlah penduduk yang termasuk kelompok generasi muda yaitu kelompok umur 14-22 tahun menempati jumlah yang banyak yaitu 64 juta jiwa [3]. Jumlah generasi muda Indonesia yang sangat melimpah 'Bonus Demografi' adalah potensi terbesar untuk pembangunan bangsa ini kedepan namun jika generasi muda Indonesia rusak maka hancurlah bangsa ini secara perlahan di masa depan.Oleh karena itu perlu upaya berbagai kalangan untuk membina dan mengembangkan potensi generasi muda dengan energi tinggi ini kearah yang positif dan bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Indonesian Creative Institute (ICI) turut andil dalam hal ini sebagai upaya kreatif pengembangan Life Skills generasi muda dalam kepemimpinan, riset, menulis kreatif dan kewirausahaan berbasis Local WIsdom (Culture).

Ada beberapa ciri dari pembelajaran pendidikan kecakapan hidup menurut Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yaitu sebagai berikut:
  • Terjadi proses identifikasi kebutuhan belajar. 
  • Terjadi proses penyadaran untuk belajar bersama. 
  • Terjadi keselarasan kegiatan belajar untuk mengembangkan diri, belajar usaha mandiri dan usaha bersama. 
  • Terjadi proses penguasaan kecakapan personal, sosial, vokasional, akademik, manajerial serta kewirausahaan. 
  • Terjadi proses pemberian pengalaman dalam melakukan pekerjaan dengan benar, hingga menghasilkan produk bermutu.
  • Terjadi proses interaksi saling belajar dari para ahli.Terjadi proses penilaian kompetensi. Terjadi pendampingan teknis untuk bekerja atau membentuk usaha bersama.
Apabila dihubungkan dengan pekerjaan tertentu, life skills dalam lingkup pendidikan nonformal ditujukan pada penguasaan vokasional skills yang intinya terletak pada penguasaan keterampilan secara khusus (spesifik). Apabila dipahami dengan baik, maka dapat dikatakan bahwa life skills dalam konteks kepemilikan keterampilan secara khusus sesungguhnya diperlukan oleh setiap orang. Ini berarti bahwa program life skills dalam pemaknaan program pendidikan nonformal diharapkan dapat menolong mereka untuk memiliki harga diri mencari nafkah dalam konteks peluang yang ada di lingkungannya.



Berikut ini beberapa kelompok ketrampilan yang termasuk life skills menurut UNICEF dan UNESCO:
1.    LEARNING TO KNOW: Cognitive abilities

a.    Ketrampilan memecahkan masalah dan membuat keputusan
  • Ketrampilan mengumpulkan informasi
  • Ketrampilan mengevaluasi dampak pada masa depan dari keputusan yang dilakukan pada saat ini pada diri sendiri dan orang lain
  • Ketrampilan menentukan solusi alternatif untuk sebuah masalah
  • Ketrampilan melakukan analisis terhadap pengaruh nilai dan sikap diri & orang lain mengenai motivasi
b.    Ketrampilan berfikir kritis (critical thinking)

  • Ketrampilan menganalisis pengaruh sebaya dan media
  • Ketrampilan menganalisis sikap, nilai, norma-norma sosial, dan keyakinan; dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
  • Ketrampilan mengidentifikasi informasi yang relevan dan sumber-sumber informasi
2.    LEARNING TO BE: Personal abilities
a.    Ketrampilan meningkatkan pusat kontrol internal

  • Kepercayaan diri (self-esteem) dan ketrampilan membangun kepercayaan diri (confidence)
  • Ketrampilan sadar-diri (self-awareness skills), termasuk kesadaran akan hak, pengaruh, nilai-nilai, sikap, kekuatan, dan kelemahan
  • Ketrampilan menentukan tujuan (goal-setting skills)
  • Ketrampilan evaluasi diri, penilaian diri, dan monitoring diri
b.    Ketrampilan mengelola perasaan


  • Ketrampilan mengelola amarah (anger management)
  • Ketrampilan mengelola keluhan dan keresahan
  • Ketrampilan mengelola kehilangan, penghinaan (abuse), dan trauma
c.    Ketrampilan mengelola stress

  • Ketrampilan manajemen waktu
  • Ketrampilan berfikir positif
  • Menguasai teknik-teknik relaksasi
3.    LEARNING TO LIVE TOGETHER: Interpersonal abilities
a.    Ketrampilan komunikasi interpersonal

  • Komunikasi verbal dan nonverbal
  • Ketrampilan mendengarkan aktif
  • Ketrampilan mengekspresikan perasaaan; memberikan umpan balik (tanpa menyalahkan) dan menerima umpan balik
b.     Ketrampilan negosiasi dan menolak


  • Negosiasi dan manajemen konflik
  • Ketrampilan bersikap asertif
  • Ketrampilan menolak
c.     Ketrampilan berempati

  • Kemampuan mendengarkan dan memahami kebutuhan dan kondisi orang lain dan mengekspresikan pengertiannya.
d.     Kerjasama dan kerja kelompok

  • Ketrampilan mengekspresikan penghargaan atas kontribusi orang lain dan gaya yang berbeda-beda.
  • Ketrampilan menilai kemampuan diri dan berkontribusi pada kelompok
e.     Ketrampilan advokasi

  • Ketrampilan mempengaruhi orang lain (influence) dan melakukan persuasi
  • Ketrampilan membangun jaringan dan memotivasi orang lain

Referensi :

[1]
Kemenko Kesra. 2010. Kebijakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa. Jakarta
[2]
Badan Pusat Statistik RI. 2012. Data Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia berdasarkan Tingkat Pendidikan. Jakarta
[3]
Badan Pusat Statistik RI. 2010. Data Sensus Penduduk Nasional Indonesia 2010. Jakarta

       [4] PLS UPI http://pkbmpls.wordpress.com/category/life-skills/ 

       [5] WHO UNESCO dan UNICEF